Pencitraan Nih Yeee..

Menulis tentang diri kita sendiri, termasuk keluarga dan teman-teman, merupakan hal yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Kenapa susah? Karena nggak semua orang bisa memilah hal mana yang patut ditulis dan hal mana yang tidak. Dan juga nggak semua orang menganggap kehidupan pribadinya itu menarik untuk ditulis. Kenapa gampang? Karena kita nggak usah repot-repot bikin lipsus (liputan khusus), atau investigasi segala. Tinggal mengingat-ingat dan mengamati, jadi deh.

Kayak proses penulisan biografi atau kisah nyata, yang namanya proses filterisasi sudah pasti harus diterapkan. Maksudnya, nggak mungkin dong seluruh kehidupan orang ditampilkan plek-plek-plek di dalam tulisan? Bisa berapa edisi nggak kelar-kelar tuh?

Jadi, yang tampil di tulisan pun hanya momen-momen yang dianggap menarik, atau sesuai dengan tema besar buku tersebut atau sesuai dengan pencitraan yang ingin ditampilkan. Misalnya nih, seorang dai baru yang lagi naik daun, diwawancara sebuah media yang tertarik dengan kisah hidupnya. Tentu sebagai seorang dai, dia memilah betul apa yang akan ditampilkan dan tidak ditampilkan dalam wawancaranya dengan si wartawan. Jadilah, kisah masa lalunya yang pernah terjerumus narkoba sampai berkali-kali, menganiaya mantan istri dan mendzalimi mantan mertua tidak diekspos. Yang tampil cuma, dia pernah kena narkoba karena paksaan teman, pernah menikah dan bercerai karena istrinya menuntut terlalu banyak, etc. Yang bagus-bagus lah pokoknya supaya citranya di mata umat tidak cacat.

*picture’s taken from here *

Untuk urusan pencitraan itu, gak jarang para selebriti dan tokoh masyarakat (public figure) berkonsultasi ke ahlinya, macem PR Agency gitu. Apalagi kalo yang bersangkutan ingin menciptakan suatu image/citra tertentu. Kalo mau pemilu, ahli penciptaan image ini laris lho. Begitu juga kalo ada yang tersangkut masalah misalkan macam kasus pidana, etc. Di tangan si ahli, citra klien yang kurang bagus atau malah terciderai oleh kasus-kasus yang menimpa mereka ‘dimainkan’ hingga berubah. Ada yang butuh total makeover, atau sekadar shifting focus or mengalihkan fokus masalah aja. Masyarakat pun tertipu dan melihat sosok ‘baru’ itu sebagai sosok yang sempurna. Padahal aslinya mah, dia lihai memainkan pencitraan.

Bagaimana dengan dunia maya? Wah, ini gampang-gampang susah ya. Gampang, karena kita bisa bikin pencitraan tanpa banyak yang tahu, di dunia nyata, kita tuh aslinya kayak gimana.  Susah, karena sekalinya kita ke-gap bokis dan ada yang menulis jelek tentang kita, seumur hidup susah dihapus buktinya. Forever it will remain in the web.

Masalah pencitraan ini sering banget ditemui di situs social media macam twitter dan facebook serta blog pribadi. Ada yang memililih menampilkan sisi dirinya yang fun, hillarious, dan gokil, ada yang memilih sisi dirinya yang motherly, loving and caring, ada juga yang memilih sisi dirinya yang glamorous, rich and trendy. Tergantung masing-masing orang sih.

Sayangnya, seperti juga para selebriti dan public figure, kadang kala, pencitraan di dunia maya berbanding terbalik dengan apa yang ada di dunia nyata. Di dunia maya dia bisa ramah, heboh dan lucu, eh di dunia nyata ternyata pemalu atau malah jutek setengah mati. Di dunia maya dia bisa tampil hedon, trendy dan glamour, ternyata di dunia nyata rumahnya ngontrak di gang (kisah real life temennya tante gue). Di dunia maya dia bisa jadi seorang peri baik hati, di dunia nyata nggak lebih dari seorang penipu atau malah PMP, pren makan pren (ih ini alay amat sih bahasa gue :-P).

Terus terang, gue juga nggak lepas dari segala masalah pencitraan. Tapi, gue justru tengsin kalo dianggap sebagai ibu hebat dan sukses. Why? In reality, I am definitely not. Gue masak aja masih nyontek resep. Gue masih sering marah ke anak gue, komplain ke laki gue, gak puas dengan berbagai urusan. Macem-macem deh.

Eh paragraf di atas bukan defensif atau (lagi-lagi) pencitraan ya. Tapi emang that’s what I feel in mind. Lagian gue bingung kalo mau bikin pencitraan macem-macem that I’m not capable of. Kayak pencitraan tajir (aslinya aja masih numpang di rumah ortu), gaul (dulu pas jomblo mungkin lumayan sering menggauli eh bergaul, sekarang mah, meri kita ke Giant aja cyin), jet set (boro-boro dah, wong hobi eikeh nyari barang2 murmer di obralan dan pasar loak), pinter (kalo iya, mungkin gue udah dapet beasiswa ke London), cakep (jangan ngeledeekkkk..), seksi (ini apalagiii..), sukses (hellooo.. Gaji gue belum 2, 3 or 4 digit tauu..), etc.

Lagian, buat apa sih pencitraan? Meski gue gak sempurna-sempurna amat, eh maksudnya, sangat tidak sempurna, I’m quite pleased with what I’ve achieved in life. Besides, the world is very small. If I create a certain image that’s very much different with who I am, people who know me in real life will know, sooner or later. They will laugh, gossip and make jokes about this ‘new’ me. Trus, orang-orang yang gue ‘kenal’ di dunia maya pasti akan kecewa saat bertemu dengan gue yang ternyata ‘oh-biasa-bangeett-padahal-di-blog-dan-twitter-kerennya-gila-abis-cing’.

Intinya, buat apa bohong? Dan, sebenarnya siapa sih yang mau kita bohongi? Diri kita sendiri atau orang lain?

Jadi inget kata Bu Elly Risman “Apapun kebohongan yang kamu lakukan, Allah pasti tau.”

I think, in this case (and hopefully also in other cases in life), I will try to keep that in mind.

*picture’s taken from here*

18 thoughts on “Pencitraan Nih Yeee..

  1. Gw hedon, trendy dan glamour…tp masih tinggal di gang kecil..perumnas pulak..hihihi.

    Tp citra apapun yg tampak dr gw, gw selalu berusaha jujur apa adanya di dunia mana pun..maya ataupun nyata.

    Kebayang ya boo, ribetnya kalo musti gonta-ganti image setiap saat.

  2. Aku punya beberapa blog, walaupun satu blog menggambarkan diri aku sebagai ibu pekerja, satu blog lagi sebagai diri aku sendiri tanpa embel-embel ibu pekerja, tapi tetep aja aku bukan somebody atau orang yang aku buat-buat sebagai aku, ngga bisa banget!

  3. Iraaa…
    Statement loe yang ” Di dunia maya dia bisa ramah, heboh dan lucu, eh di dunia nyata ternyata pemalu”, itu nyindir gw yaaa ? Itu soalnya gw bangetttt.

    Kalo gw sih mikir gw belon perlu pencitraan, personal branding ato apalah…laaah sapa gw? Emang ada yang mau peduli juga citra gw kayak mana.

    Gw sih prinsipnya : emang begini orangnya, loe mau terima gw, yuk kita temenan. Kalo loe gak bisa terima gw dengan kekurangan gw, ya udin masih ada kok yang mau temenan sama gw.
    *ngelengos*

    • Cih, pemalu apanyaahh?? Yg ada malu2in kalii *timpuk Indah pake kolor*

      Jangan salah Ndah. Mungkin lo dan gue bisa begitu. Tapi buat beberapa orang hidup tanpa pencitraan itu bagaikan makan sayur tanpa garam *lah jadi lagu dangdut*. Tujuannya ya mungkin pengen ngetop, jadi idola, atau menutupi sesuatu yang mereka anggap aib. Well, we’ll never know, won’t we?

  4. Hihihi judulnya MY banget😀 . Beneran ada di real life mbak, ada yang “di dunia maya dia bisa tampil hedon, trendy dan glamour, ternyata di dunia nyata rumahnya ngontrak di gang”? ck..ck…apa yang dicari ya?. Gak enak lah bukan menjadi diri kita sendiri. Kalau menurut saya, apa yang terpapar di dunia maya tidak cukup kuat untuk menilai orgnya begini, orgnya begitu. Benar kata mbak Ira, krn yang ditampilkan cuma sebagian kecil bahkan kecil banget dlm kehidupan kita. Jd kalau ada yang “silet” di dunia maya, ya cuekin aja. Lha wong pastinya dia gak kenal kita seutuhnya🙂

    • Setuju sama komennya Bundit. Tapi kenyataannya, nggak semua orang berpikiran gitu Bun. Manusia itu gampang banget silau sama sesuatu yang ‘mengkilap’. Jadi pas tahu, misalnya orang itu nggak se-mengkilap yang diduga, bisa kecewa deh. Ujung-ujungnya disiletin deh hehehe..

  5. Numpang komen perdana di sini ya, abis topiknya cihuy ^_^

    Aku tertohok banget dengan “Gue masak aja masih nyontek resep”. Aku tuh sukaaa mencoba resep2 baru.. mencoba bukan berarti JAGO ya, tapi karena aku suka posting2 hasil ‘eksperimenku’, disangka orang2 aku jago masak. Untung aja mereka gak ngerasain langsung masakanku, jadi ya alhamdulillaah aja dianggap jago masak, itung2 do’a gak sih.. hehe..

    Tapi emang kita gak bisa lepas dari yang namanya pencitraan, baik kita yang mencitrakan diri, maupun di’citra’i😀

    IMHO, setiap orang, sebagai makhluk sosial, pasti pengen diterima oleh lingkungannya. Jadilah karakteristik yang kira2 lebih positif dan diterima oleh orang2 sekitar (mis. tajir, pinter, de es be) lebih banyak dipake orang untuk pencitraan.

    Asal gak lebay dan napsu banget bikin pencitraan diri, insyaALLAH normal2 aja. Kalo lebay, baru tuh bikin hidup tersiksa banget

    Makasih udah boleh komen di sini, salam kenaal🙂

    • Hihihi.. Ideeemmm! Gue jg kalo masak bawa2 BB. Bukan gegayaan, tapi semua contekan resep ada di situ semua :-p Makanya kalo banyak yang nyangka gue jago masak, jadi malu sendiri deh😀

      Setuju sama pendapat dirimu Mak. Asal nggak lebay, dan nggak jauh dari kenyataan, nggak masalah kali ye. Salam kenal juga🙂

  6. Eyyaaaaahhhh gw banget…..gw kan twitnya pencitraan semua.,,,,gila aja kalo enggak rraaaaa,,,malu bok!sori ya kako gw suka ngetwit bagi2 berlian……abis kalo gw ngetwit bagi2 indomie kan ga keren lagiiiiii :p

    *kabuuuuuuurrrrrr*

  7. Pingback: Gangsta’s Paradise « Our Diary

  8. Pingback: It’s All or Nothing « Our Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s