What’s in A Name?

Beberapa hari lalu, gue iseng ngetwit begini:

“Most married couples call their spouses with what their children call them. I don’t call hubby “Papa” and he doesn’t call me “Ibu” either. Is it normal?”

Surprisingly, gue punya banyak temen. Dalam artian, banyak pasangan yang, meski udah punya anak, tetep manggil suami/istri masing-masing dengan panggilan zaman pacaran, pake nama doang, atau julukan kreasi masing-masing.

It also anwers why in this blog, I always use the word “gue” as a reference to myself, instead of using the third-person word like “Mama”, “Ibu”, “Umi” or else, that most blogger mommies use. Well, lagian isi blog ini juga jarang berkaitan dengan parenting sih, secara blog sayah egois banget, hehehe.. *malu :-P*

Okay, back to those name calling, yah, sebenarnya gue juga nggak sakelijk banget sih tidak menggunakan panggilan “Papa” ke hubby. Kalo di depan Nadira, kadang-kadang gue panggil hubby “Papa”, and he does call me “Ibu”. Tapi itu cuma sesekali sih. Makanya, Nadira hobi tuh manggil kita berdua “Yib” her way of saying “Lieb”, our term to call each otherπŸ˜€

Dan gue pernah baca dimana gitu ada ahli parenting, yang juga kemarin di-twit sama adik gue, menyatakan bahwa panggilan “Mama-Papa” yang digunakan pasangan bisa mempengaruhi kualitas hubungan mereka as couple.Β  Well, gue sih nggak mikir sampe ke situ ya. Kalo menurut opini gue, it depends on the culture tampaknya.

Si ahli parenting itu mungkin punya background keluarga dan pendidikan dari negara Barat yang mengutamakan kualitas suami-istri, bukan keluarga. Makanya, begitu Ronald Reagan manggil Nancy Reagan “Mother”, masyarakat Amerika sering jadiin itu as a joke, right? Kalopun mereka manggil “Mommy” dan “Daddy” to each other, biasanya itu akan berhenti hingga si anakΒ  berada di usia tertentu, dan itu pun hanya dilakukan di hadapan si anak.

Kalo di budaya Indonesia kan, keluarga adalah nomor satu. Hubungan suami-istri jadi nomor kesekian. Makanya nggak heran kalo sebutan sayang biasanya akan hilang dengan sendirinya saat anak lahir, berganti dengan sebutan “Mama Papa” dll itu. There’s nothing wrong with this, bahkan di budaya kita, it’s so very common.Β  Di budaya lokal seperti Jawa, Sunda, Betawi, Batak, Papua, pun semua pasangan memanggil pasangan with what their children call them. Identitas pun melebur menjadi “Ibunya si Anu”, “Bapaknya si Itu”, nggak lagi si A atau si B.

Tapii.. Menurut gue mah, nama panggilan itu nggak penting. Apapun istilah yang lo gunakan untuk memanggil pasangan, sesuaikan dengan kata hati aja. Besides, just like Shakespeare said “What’s in a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet.” So let’s just be ourselves!Β πŸ™‚

*Thanks to para twitmoms yang bales twit iseng gue kemarin. Kecuupp!*

9 thoughts on “What’s in A Name?

  1. Waktu pacaran gw pgl hubby olila/gembul dan gw dpanggil onet *terjemahinajaartinya :p* skrg udah hana jd ayah-mimi. Tp skrg hana kadang2 dah mulai iseng panggil kita bedua dg nama msg2 dg embel2 om dan sis,krn gw yg ngajarin *janganditiru* *emaksableng*

  2. hihiiiy.. aq sempet di protes oleh beberapa orang dan ada juga yg bilang aneh .. gara2 walaupun udah punya anak masih manggil Aa-Dd dgn hubby.

    kalau aq pribadi siy ga mau manggil ayah ke hubby krn aq pikir aq udah punya ayah koq..aneh aja kalo ada orang lain lagi selain ayah kandungku yg aq panggil sebutan ayah.. hihihi alasan yg aneh yee..

    jadinya syasya suka manggil aq mommy dd dan manggil hubby ayah aa..hihihihi

  3. Mendadak gw berkhayal tingkat tinggi kalo gw dan Hani ikut-ikutan anak gawol manggil Cuy-Cong, ntar Ganesh manggil gw gini dong ” Minta cucu dong,Cuy” ato ke Hani ” Cong, bagi duit dong”…

  4. Hehehe, ngakak baca tulisan dan komentar2 nya. Kalau saya dan suami merubah panggilan jadi ayah dan bunda setelah Dita mulai ikutan2 manggil “say”πŸ˜€. Sebelumnya saya dan suami saling memanggil say. Tapi kalau tdk di depan Dita ya, kadang masih pakai “say”. Tapi apapun nama panggilan, menurut saya gak ngaruh lah buat kualitas hubungan suami-istri. Malah makin solid, krn panggilan “ayah-bunda’ terasa family bangetπŸ™‚

  5. Pingback: Filosofi Profpic « The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s