Leaving on a Jet Plane

Gara-gara baca thread ini di forumnya MommiesDaily jadi sedih inget ‘dosa-dosa’ gue ke Nadira. Apalagi pas gue tinggal ke Korea kemarin. Mau berangkat aja rasanya dosa banget krn I won’t be by her side for a week.

Seminggu sebelum pergi, gue nggak ada kesempatan untuk bener-bener stay di rumah dan main sama Nadira. Gue harus ngelarin kerjaan yang tersisa, ngeladenin deadline tiap hari, perpanjang paspor, urus visa, juga beli dan pinjem perabotan musim dingin (maklum eikeh norak, ke Puncak aja kudu pake sweater. Gimana ke Korea yang lagi early winter?).

Nadira tau emaknya mau pergi karena emang gue dan hubby usaha bilang ke dia baik-baik “Ibu mau kerja ke Korea minggu depan ya”. Trus kalo dia tidur, gue berusaha hipnoterapi dengan bilang, “Ibu mau ke Korea seminggu, Nadira yang manis ya di rumah sama Papa.” Harapan kita, dia nggak rewel selama gue tinggal.

Hasilnya, dia malah mau nemplok mulu sama gue. Ke toilet aja susah. Gue berangkat kerja, dia nangis. Gue bener-bener nggak bisa ngapa-ngapain, including masak dan nyiapin makanan untuk ransum dia selama gue tinggal. Sempet sih bikin somay (ikan+udang+sayur) sebanyak beberapa puluh biji untuk stock. Itupun nyolong-nyolong waktu pas Nadira tidur.

Gak heran, detik-detik menjelang hari H gue berangkat, gue jadi tambah deg-degan. Mana hubby maksa Nadira untuk stay di rumah MIL bareng dia. Padahal, sejujurnya, gue lebih sreg Nadira stay di tempat nyokap karena, ya mau gimana pun, urusan sama nyokap sendiri lebih enak. Kalo sama MIL kan ada pakewuh dan takut dong pastinya.

Trus tambahan lagi, Nadira diajak ke Cirebon Sabtu pagi sampe Minggu sore sama hubby, MIL dan SIL untuk menghadiri acara kawinan sodara. Jadi pas gue pulang Sabtu malam, gue gak ketemu dia. Sedih banget rasanya karena the only reason for me to come home as early as possible is her. Ini yang bikin hati gue mencelos banget sebelum berangkat.

Pas hari H, Alhamdulillah, Nadira maniiiss banget. Abis gue check in, karena masih dua jam lagi waktu untuk boarding, gue keluar dan main-main sama dia selama 1,5 jam-an. She was very cheerful and enjoying her time with me. And when my time to go had come, she looked okay too. Bahkan dia sibuk dadah-dadah ke gue, sampe rasanya I didn’t wanna go because I didn’t wanna lose her from my sight😦

Di Seoul, Alhamdulillah, BB gue bisa nyala, dengan tarif yang gak terlalu mahal karena Indosat lagi ada promo (#makirit bok). Jadilah tiap hari gue teror hubby untuk mengirimkan foto-foto aktivitas Nadira sehari-hari. Selama emaknya pergi, kata hubby, Nadira ternyata pengertian banget. Kata hubby, nyariin gue pasti lah tiap hari. Tiap tanya “Ibu nana?”. Hubby/MIL/SIL akan jawab “Ibu kaaan..” yang disambung Nadira “toooll”. Abis itu ya anteng lagi mainan. Alhamdulillah juga, ART khusus untuk Nadira dateng. Jadi makin banyak temennya di rumah. Dia pun semakin happy.

Gue-nya gimana? Kalo diturutin sih, bawaannya kangen berat. Tapi gue ketemu temen serombongan yang punya kisah tragis. She’s a single mom, anaknya umur 10 tahun dan menderita cerebral palsy. Kisah perceraiannya juga tragis karena pake acara rebutan anak macem Ahmad Dhani vs Maia gitu. Karena pekerjaannya, dia terpaksa harus sering ninggalin si anak untuk tugas ke luar kota atau ke luar negeri. “Kalo nggak gini, gue nggak ada duit buat terapi anak gue, Ra. Lo kan tau, biaya terapi anak-anak kayak anak gue gak murah.”

Jleb. Asli, gue dengerin dia cerita sampe berkaca-kaca dan malu sama diri sendiri. Gue ngerasa lebay. I have a great daughter, wonderful hubby and helpful parents, sister and in-laws . Gue gak perlu kerja gila-gilaan kayak dia supaya anak gue bisa sekolah. Sumpah, gue maluu banget karena selama ini suka ngeluh, nolak tugas kantor karena takut pisah sama anak, etc.

Jadilah gue selama tugas di Seoul, berusaha serius kerja dan nggak lebay-lebay banget. Ya wajar sih ya, beberapa puluh kali dalam sehari liat-liat foto anak, hehehehe.. I tried to believe that Nadira’s in good hands at home. Apalagi gue dapet kabar, Nadira baik-baik aja. Gak rewel, gak cengeng, mau makan, etc. Good toh?

Saat Nadira pulang dari Cirebon, gue jemput dia di stasiun Gambir. Reaksinya lucu deh. Langsung nemplok tapi malu-malu, trus bolak-balik liatin gue. Kayaknya dia nggak percaya kalo gue bener-bener ada di depan mukanya. Mungkin dia lagi meyakinkan diri kalo itu bukan mimpi ya🙂

Begitu sampe rumah, langsung deh minta ninen. Hahaha.. Padahal selama gue pergi, dia baik-baik aja tanpa ninen lho. Hubby pun udah cukup optimis menyangka Nadira udah bisa disapih. Eh ternyata, gagal total sodara-sodara! Sekarang malah lebih gragas pula, pheeww!

But anyway, I’m so glad that she still wants to be breastfed. Maklum emak labil. Di satu sisi pengen nyapih, tapi di sisi lain belum rela hehehe..

6 thoughts on “Leaving on a Jet Plane

  1. ra, entah kenapa, baca postingan ini aku jadi melihat sisi lain ira yang aku kenal🙂
    buat aku ira adalah ira yang di bio twitternya, ira yang ceria, ira yang seorang ibu yang gembira dan kuat sekali… tapi dipostingan ini, aku melihat ira, seorang ibu yang lembut hati.
    trust me, nadira bangga sekali punya ibu seperti kamu🙂

    aku juga dulu waktu kecil kalo jemput mamaku dinas, bangga buuanget loh

  2. Pingback: 1 Bulan Lagi « Our Diary

  3. Pingback: (Ceritanya sih) Resolusi 2011 « Our Diary

  4. Pingback: Weaning with Love (and Persistence) « Our Diary

  5. Pingback: Curcol EEB « The Sun is Getting High, We're Moving On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s