My Note on Motherhood

God could not be everywhere, so he created mothers. — Jewish Proverb

The proverb concludes everything, that a mother equals to and even is considered as God’s representative in the world. Makanya (kembali pake B. Indonesia soale capek :-P) posisi seorang Ibu di belahan dunia dan kebudayaan manapun biasanya selalu mulia. Semua agama selalu mengajarkan umatnya untuk menghormati dan mencintai Ibunya. Di agama gue, Islam, ada hadis yang bunyinya begini:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab, “Ibumu!” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab lagi, “Ibumu!” Ia balik bertanya, “Siapa lagi?” Rasul kembali menjawab, “Ibumu!” Ia kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab, “Bapakmu!” (Dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani (Bukhari-Muslim).

Pasti pada bingung, kenapa gue ujug-ujug jadi manusia ‘bener’ bawa-bawa hadis segala? Hehehe.. Jadi malu. Sebenarnya sih gue nulis ini  karena berkaitan dengan kondisi perbokepan, eh maksudnya, beredarnya video porno yang (diduga) menampilkan artis-artis kondang you know who they are itu lah. Yang bikin prihatin, one of them is a mother. Dan seperti gue sebutin tadi, ibu itu sebuah profesi/predikat yang mulia karena dengan menjadi ibu, seorang wanita diharapkan untuk bisa memberikan contoh kepada anak-anaknya.

Oleh karena itulah, social sanction akan lebih besar dijatuhkan kepada seorang ibu yang berselingkuh ketimbang bapak yang berselingkuh. Begitu pula jika ibunya kurang bener or careless pasti society akan lebih menyorotnya ketimbang kalo ada bapak yang tidak peduli pada anak. Dalam hukum Islam yang diadopsi oleh Pengadilan Agama pun, jika pasangan bercerai, anak-anak berusia (cmiiw) di bawah 18 tahun otomatis akan ikut ibu.

Tapii.. Kondisi tersebut tetap memiliki pengecualian untuk beberapa kondisi khusus dan biasanya karena si ibu punya kesalahan. Salah satunya adalah jika ibunya berselingkuh atau terbukti menelantarkan anak.

Gue jadi inget punya temen SD yang tinggal hanya bersama adik, bapak dan neneknya. Denger punya denger, ibunya kabur dengan laki-laki lain. Saat itu, dalam pikiran gue sebagai seorang bocah ingusan, gue cuma bisa kasian karena temen gue nggak punya orang yang akan memeluknya saat ia sedih dan memasakkan makanan favoritnya. Sekarang, setelah lebih banyak punya pengetahuan, rasa sedih gue jadi lebih dalam.

Dan terus terang, setelah jadi Ibu, gue ngerasa beban gue jadi lebih berat. Selain harus lebih care sama kelangsungan hidup satu makhluk mungil nan rempong bernama Nadira, gue juga harus berusaha untuk be a better person, inside and outside.

Seorang teman bilang begini pas she’s 7-month-pregnant: “Gue mau memperbaiki my way of life dengan hidup sehat, bok. Gue kan mau melihat anak gue dewasa, menikah dan punya keluarga sendiri. Jadi dari sekarang gue mau hidup sehat, olahraga, makan yang bener dan berhenti merokok+minum.” Btw, that friend of mine used to be a heavy drinker and smoker. Gue pun terus terang melongo karena nggak nyangka dia bakal bilang begitu.

That’s why, gue agak-agak sedih pas seorang teman lain, tetap melanjutkan gaya hidupnya yang hedon abis dan berganti-ganti pasangan meski dia udah menikah dan jadi seorang ibu. Kasian dengan nasib anak-anaknya yang sering ditinggal emaknya untuk pacaran or have fun with her friends most of the time.

Apalagi saat denger kabar tentang this so-called ‘porn star’. Segala video, foto atau apapun yang sudah beredar di internet, akan sulit untuk di-delete selamanya karena file-file tersebut akan terus beredar di dunia maya. Tinggal cari di search engine, pasti langsung ketemu. Bayangkan, apa yang akan terjadi pada si anak saat ia dewasa nanti? Yes it’s true that people forget. But if the evidence’s still there the whole time, how can they?

Bayangkan juga kalo si anak dewasa, terus punya pacar dan ortu pacarnya langsung menolak karena ibunya used to be a ‘porn star’? Belum lagi olok-olok atau komen negatif yang akan ia terima sepanjang hidup karena punya ibu seperti itu. Ngenes bayanginnya.

Makanya gue akan terus berusahaaaa banget ngejaga diri dari hal-hal yang memungkinkan gue menjadi ibu yang careless. I’m so afraid of losing my child. Even more, I’m so afraid that she’ll hate me and regret having me as her mom.  Will you help me, mommies? Or perhaps, we all could learn to accomplish this duty with full responsibility.  For us, for our children, for their future🙂

The moment a child is born, the mother is also born.  She never existed before.  The woman existed, but the mother, never.  A mother is something absolutely new.  ~Rajneesh

8 thoughts on “My Note on Motherhood

  1. Pingback: The Center of My Universe « The Sun is Getting High, We're Moving On

  2. Pingback: Mul4n, Motherhood and Cyberbullying | The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s