Jadi IRT, Siapa Takut?

Seorang teman mengirimkan joke lama baru-baru ini. Bunyinya kayak gini nih:

Antara Aku, Tuhanku, Dan Istriku       

Seorang lelaki berdoa: “Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin memberinyapelajaran, tolonglah ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami.”

Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doanya. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri tersebut, terbangun dan cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah.

Kemudian ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak.

Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk makan siang.

Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang telah dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya.

Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar listrik dan telepon. Disuruhnya kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank ia menyetrika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman, kemudian memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam sembilan malam ia sangat kelelahan dan tidur terlelap. Tentu masih ada ‘pekerjaan- pekerjaan kecil lainnya’ yang harus dikerjakan.

Dua hari menjalani peran sebagai istri ia tak tahan lagi. Sekali lagi ia berdoa, “Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi.”

Tuhan menjawab:”Bisa saja. Tapi kamu harus menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil.”

Naah.. Dari joke itu, gue tambah kagum deh sama mereka yang memilih untuk jadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Nggak gampang lho, apalagi jaman sekarang, profesi IRT sering dipandang sebelah mata, terutama kalo yang memilih untuk jadi IRT adalah perempuan-perempuan yang pernah ‘makan’ bangku kuliahan. Pasti banyak yang mikir “Ngapain udah capek-capek dan mahal-mahal kuliah tapi ujung-ujungnya cuma ngurus anak, suami dan ngulek sambel di dapur?”

Sejujurnya, gue pun dulu pernah berpikir begitu. Pas seorang teman, sarjana teknik yang satu almamater sama gue, memilih menjadi IRT setelah menikah dan punya anak. Begitu pula saat mendengar cita-cita seorang teman lain yang ingin jadi IRT setelah menikah meski dia punya gelar S2 bidang psikologi.

Tapi begitu punya anak, gue pun paham kenapa teman-teman gue itu memiliki keinginan seperti itu. Duileh, ninggalin Nadira setelah cuti hamil rasanya beraaat banget. Bawaannya pengen bolos ke kantor setiap hari supaya bisa main-main dan ngurus Nadira di rumah aja.

Trus kenapa gue nggak jadi IRT aja? Nah di sinilah dengan malu gue mengakui, gue takut. Gue masih belum berani meninggalkan ‘comfort zone’ gue, yaitu profesi sebagai wanita karier yang gue lakoni sejak kurleb 10-12 tahun lalu. Gue belum berani untuk sepenuhnya menggantungkan finansial gue ke suami. Gue belum berani untuk menghabiskan 24 jam melulu di rumah, dengan pemandangan itu-itu aja. Yes, I really am THAT coward.

Untung sih laki gue juga nggak maksa or minta gue untuk jadi IRT karena dia paham dengan kegamangan gue ini. Apalagi dia mengaku, takut dengan dampak psikologis yang akan gue alami kalo ujug-ujug gue jadi IRT. Mungkin dia takut jadi pelampiasan rasa stress gue kali ye, hihihi..😀

6 thoughts on “Jadi IRT, Siapa Takut?

  1. Jiaaaahhh napa alesan jd WM samaan ya paadahal ga janjian qt hihi, kl aku disamping msh bingung ngabisin 24jam tiap harinya dirumah,krn kerjaan aku teope deh, 3 hari kerja 2 harinya jam 12 cabut jd lumayan msh pny waktu ( walah malah curhat )🙂

  2. Kl gue, yang pernah mencicipi pengalaman jadi IRT 9 bulan (setelah melahirkan), memang harus mengakui kalau kebutuhan RT kami mengharuskan adanya dua sumber pendapatan. Menurut gue sih, jadi IRT/FTM atau working (at the office) mom (WATOM) sama beratnya. Jadi ibu bekerja (di kantor) itu artinya cklok absen pulang di kantor, sampai di rumah ya cklok absen masuk. Jadi FTM, ya cklok masuk-keluar sama aja. Haha.

    Laki gue kebetulan tipe yang suka istrinya ada kegiatan. Jadi kalaupun suatu hari (di saat keuangan keluarga sdh stabil) gue (bisa) jadi FTM, dia ga mau gue “hanya” urus rumah. Maunya ada kegiatan lain; jualan, freelance writing atau apalah.

    • Bedanya, kalo FTM, lo ceklok absen 24 jam tp gak dapet duit lembur bok😛

      Buat gue kalo jadi IRT, gue jadi berasa powerless gitu lho karena selama ini, gue ngerasa powerful dan independent dengan punya duit sendiri. I know it’s wrong karena emang sudah sewajibnya suami itu menafkahi keluarganya. But I don’t know, I just can’t help thinking that way. Kalopun kelak laki gue mencukupi untuk semua kebutuhan RT (plus bisa kasih gue duit jajan untuk tiap bulan beli LV dan Hermes? :-D) dan gue bisa jadi IRT yang sebenarnya, mungkin gue akan tetep cari aktivitas freelance supaya punya duit sendiri🙂

  3. Gue dulu nangis setiap pulang kerja Ra.. Ngeliat anak gw dah tidur.. Dulu Bima sekitar 6 bulan.. Akhirnya lagi gue jengah liat gw nangis mulu, trus minta gw timbang masak2, maunya gw apa sebenernya.. And here I am now.. Pagi nyiapin sarapan, nyuapin, nungguin anak di sekolah.. Siang nemenin anak nonton, main game.. Dan seterusnya.. Eh, sekarang hamil lagi anak ketiga, hehehehe.. :p

    • Arrghh.. Anis, gue jadi tambah pengen resign nih jadinya. Tapi serius, gue belum bisa bayangin jadi IRT full di rumah. Soalnya pengalaman temen2 gue yang ada awal2 malah depresi lah, stress lah, jadi parno sendiri😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s