Setahun Sudah…

Gak kerasa, setahun sudah gue jadi seorang ibu. Setahun juga prioritas dan fokus hidup gue berubah 180 derajat. Dulu gue bisa santai tidur sehari 8 jam dan pergi kemana-mana sendiri tanpa beban. Dulu gue juga bisa cuek kabur ke tempat orangtua untuk numpang istirahat kalo lagi nggak banyak pekerjaan *maklum tempat ortu deket banget dari kantor bok*. Apalagi pas hamil, dimana semua orang benar-benar kasih empati dan (seakan-akan) memanjakan gue.

Sekarang? Wuih, boro-boro deh. Rasanya udah kayak Upik Abu. Jam tidur gue dijajah abis sama bocah kecil mungil nan rempong berat itu. Sehari bisa tidur 6 jam aja berasa kayak di surga. Itupun masih harus bangun tengah malam karena Nadira minta nenen. Untuk sering-sering pergi atau bahkan ke tempat orangtua untuk numpang istirahat dan leyeh-leyeh pun rasanya berat. Soalnya, kalo ada waktu lowong, gue sekarang lebih milih untuk bersama Nadira.

Selama satu tahun itu pula gue benar-benar pulang tenggo. Pergi pagi, pulang sore. Kalo ada liputan malam, hayuk. Tapi gue nggak banyak babibu. Setelah selesai, langsung cabut. Untunglah punya bos yang pengertian. Selama satu tahun, gue request khusus untuk nggak dikasih liputan ke luar kota supaya bisa kasih Nadira ASI thok. Jadinya, selama setahun itu gue nggak travelling kemana-mana sama sekali. Dulu, mana mungkin gue bisa tahan gak travelling kayak gini. Sekarang, koq ya rasanya lebih enak mendekam di kamar, main kitik-kitikan sm Nadira ya?

Makanya, kehidupan sosial gue udah hancur lebur berantakan. Selama 1 tahun kemarin, gue baru sempat ketemu my closest friends 2 kali. Pertama waktu mereka menjenguk gue yang habis melahirkan. Kedua, saat Nadira umur 7 bulan dan gue maksa untuk ikut hang out bareng mereka di sebuah restoran India. Itupun dengan hati deg-degan karena takut Nadira kenapa-kenapa dan males dicemberutin MIL karena pulang malam.

Selama satu tahun itu juga, kegiatan memompa dan memerah ASI jadi kegiatan utama gue. Soalnya, gue bertekad untuk kasih Nadira nothing but ASI for her first year of life. Jadilah berbagai toilet, ruangan kosong dan business center di berbagai hotel dan kantor gue pake untuk memerah ASI. Alhasil, waktu untuk browsing internet, gosip-gosip brg temen dan istirahat di sela-sela pekerjaan berkurang karena kegiatan perah-memerah ASI ini. Sekarang, sejak Nadira satu tahun, gue udah gak merah ASI lagi. Pasalnya, Nadira udah boleh mimik susu UHT atau susu sapi. Alhamdulillah sih, tanganku pun gak tremor lagiπŸ˜€

Oh ya, sejak Nadira mulai MPASI pula, schedule gue bertambah dengan acara masak-memasak. Jadilah sehari-hari udah kerja banting tulang *hiperbola*, merah ASI di sela-sela jam kerja, sampe rumah kudu ngurusin bocah rempong, eh masih ditambah midnight cooking segala. Tapi gue emang keukeuh melakukan midnight cooking itu karena gue nggak mau Nadira makan makanan instan dan juga garam+gula sebelum 1 tahun. Gue juga nggak pengen Nadira jadi picky eater kayak emaknya ini. Selama itu pula gue meras otak, mikirin menu-menu makanan untuk Nadira, pusing pas dia GTM (gerakan tutup mulut) dan ikut senyum liat dia lahap makan.

Okay, enough complaining. Yg jadi pertanyaan sekarang adalah, is it worth it? Gue berani bilang, YES! Ngeliat Nadira sekarang lincah, pintar dan aktif (meski seringnya berlebihan sih *lap keringet*), udah cukup banget sebagai bukti usaha gue selama ini. Melihat reaksi dia saat mengimitasi gerakan-gerakan gue saat menyanyikan Topi Saya Bundar, atau gaya gue pas lagi telpon, atau saat dia minta dinyanyiin theme song Mickey Mouse Clubhouse berulang-ulang atau saat dia tersenyum lebar pas gue pulang kerja udah bikin gue bahagiaaaa banget *mata mulai berkaca-kaca*

Makanya gue sedih banget kalo ada ibu yang nggak mau ngurus anaknya sendiri hanya karena malas atau lebih suka hang out dengan teman-temannya ketimbang spending time with her kid. Our time is limited, Mom. Our babies won’t be babies forever. Mereka cuma akan bermanja-manja dan bergantung pada kita selama beberapa saat dalam hidupnya. Begitu mereka udah bisa bersosialisasi atau punya teman, dicium dan dipeluk pun mereka belum tentu mau. So, cherish your moment now, Mommies. Sebisa mungkin, bikin bonding yang kuat dengan anak kita, before everything is too late *maap ya jadi lebay gini gue *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s