Review MPASI 10 Bulannya Nadira

Gak kerasa, tanggal 20 Desember kemarin, my baby girl turned 11-month-old. So, it’s time for me to write a review on what she has consumed on the past 10 months of her life.

Di usia 10 bulan, Alhamdulillah nafsu makannya Nadira lumayan oke banget. Dalam sehari, dia makan besar 3 kali, dan cemilan buah/kue buatan emaknya 2-3x. Malah kadang-kadang lebih dari itu. No wonder, konsumsi ASI-nya selama gue kerja pun jadi gak begitu banyak. Baru pas gue pulang kerja or selama gue ada di rumah, kerjanya neneeen mulu. Lumayan lah, secara stok ASI perah gue udah kayak sinetron Cinta Fitri gini, alias kejar tayang merah hari ini buat minum besok gitu

Seperti biasa, gue juga mulai kenalin Nadira dengan beberapa jenis makanan baru. Untuk karbohidrat, gue kenalin dia dengan singkong. Singkong itu gue kukus dan ditumbuk bareng ubi kukus. Kemudian dijadiin schotel bareng kismis, telor, butter dan keju. So far, so good. Nadira suka, dan tidak ada reaksi alergi.

Untuk sayuran, gue kenalin Nadira sama kacang panjang, jamur merang, dan secara official, jagung. Jagung ini pas 9 bulan pernah dikasih secara tak sengaja sm emak gue. Eh, baru di usia 10 bulan, gue keingetan untuk kasih Nadira makanan berbahan dasar jagung. Hehehe.. Maklum emak-emak pelupa

Untuk buah, nggak ada yang baru sih ya. Paling varietas baru dari jeruk dan pisang aja. Sebelumnya, Nadira pernah nyobain jeruk baby dan pisang ambon Sukabumi + Cavendish. Jeruk baby dia kurang suka karena agak pahit, tapi pisang ambon dia suka bener. Nah kemarin ini, gue cobain kasih jeruk Medan, jeruk Ponkam dan pisang raja. Hasilnya? Semuanya dia doyaaann!

Yang rada variatif mungkin dari proteinnya ya. Di bulan kesepuluh ini, gue coba kasih Nadira udang, ikan teri dan ikan tuna. Beberapa ibu sih memilih untuk menunda pemberian seafood untuk baby-nya karena takut alergi. Karena gak ada riwayat alergi seafood dalam sejarah keluarga gue dan laki gue, ya gue mulai cobain aja udang dan ikan laut ke Nadira di usia 10 bulan. Wah, dia doyan banget! Mulutnya mangap dengan sukses. Seneng deh nyuapinnya meski rada-rada amis, hehehe..

Oh iya, karena gue mulai lumayan sering praktek bikin kue, alhasil Nadira pun 1-2 kali kebagian jatah kue bikinan gue. Bukan kue yang macemnya bolu-bolu gitu sih. Tapi kue soes bagian kulitnya doang yg gurih itu, tanpa vla. Trus saat pulang dari cooking class Kaastengels, gue kasih dah tuh bocah Kaastengels Almond yang bahan-bahannya (menurut gue nih) paling nggak macem-macem. Duileh, mulutnya kayak gak mau nutup. Mangaaapp aja. Seneng deh!

Emang sih, memberi Nadira kulit Kue Soes dan Kaastengels berarti melanggar prinsip jangan beri gula dan garam kepada anak sebelum ia berumur 1 tahun. Soalnya, meski cuma sedikit, di Kue Soes dan Kaastengels yang gue bikin itu, terdapat gula dan garam. Yah, gpp kali ya bandel-bandel dikit. Wong cuma sekali doang *minta dukungan :-p* Lagi pula, gue berani kasih Nadira kedua kue itu karena dua-duanya bikinan sendiri. Jadi gue tau persis, bahan-bahan apa aja yang gue masukin ke dalam adonannya. Yang pasti, gak neko-neko, berkualitas dan tanpa MSG! *kesannya promosi kue bikinan ndiri yak? hihihi..*

Tapi ada yang bikin gue rada sebel nih. Jika bulan lalu gue rajin banget bikin nasi tim dan sayur/lauk terpisah, bulan ini gue malah mundur satu langkah. Gue jadinya bikin nasi tim campur melulu. Bahkan, cukup sering juga, nasi tim dibikinin nyokap gue, trus gue ambil dan bawa pulang ke rumah mertua untuk Nadira. Alasannya? Ada internal problem yang bikin gue males nguprek di dapur di rumah mertua. Daripada ribet dan bikin bete, mending gue masak yang praktis-praktis aja. Itupun seringkali gue masaknya tengah malem, when everybody was sleeping. Gue baru bisa enjoy masak memasak kalo di dapur rumah emak gue sendiri dah.

Tiga hari menjelang usia 11 bulan, Nadira kena GTM lho, alias gerakan tutup mulut alias mogok makan. Hiks, sedih banget deh. Secara ini bocah kan jarang bermasalah sama makanan, lahap melulu. Yang ada gue jadi bingung. Dibikinin nasi tim, ogah. Oatmeal, ogah juga. Dikasih cornflake Kellogs, cuma mau dikit. Dia cuma lahap makan roti, pisang dan pepaya aja. Itupun nggak full portion gitu.

Untunglah, pas GTM hari kedua, gue pas di rumah emak. Gue bikinin aja Nadira schotel kentang pake ayam, telor, buncis dan keju, plus schotel ubi pake keju. Sambil deg-degan, gue minta tolong nyokap untuk nyuapin Nadira. Alhamdulillah, mau makan juga anakku. Tapi jadinya gitu. Sampe sekarang, dia cuma mau makan schotel-schotelan dan puding roti. Nasi dilepeh euy. Sedih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s