Catatan Seorang Emak Baru

*also posted on Facebook*

People say, you’ll be more mature as you get older. It’s very true, indeed. At least, that’s what happens to me.

Coba suruh gue merit, hamil dan melahirkan lima tahun lalu. Pasti muka gue bakal meringis tanda ogah. Maklum, waktu itu, gue masih sangat sangat menikmati kehidupan sebagai seorang jomblowati. Bisa dating sama siapa aja, clubbing, partying, pokoknya work hard, play harder lahπŸ˜‰

Kemudian, melahirkan adalah mimpi paling buruk yang gue takuti. Soalnya, tiap menstruasi gue selalu kesakitan. Dan nyokap bolak-balik bilang, “Melahirkan itu rasanya ratusan kali lebih sakit dibanding mens lho.” Nah, siapa yang gak jiper, coba?

Tapi, akhirnya toh gue memutuskan untuk merit (yang disambut sujud syukur si Mamah :-p). Sebulan setelahnya, gue langsung hamdan, dan dimulailah rasa deg-degan karena gue parno dengan proses melahirkan yang katanya sih, suakiiitt banget. Bolak-balik gue cari info tentang melahirkan tanpa rasa sakit. Dengan hypnobirthing lah, waterbirth lah, aromatherapy lah, pokoknya macem-macem deh. Tapi berhubung saya pemalas, info-info itu cuma dibaca tapi gak di-follow up. Gue pun memilih untuk berdamai dengan keadaan dan mencoba, untuk pertama kalinya dalam hidup, menghadapi rasa takut gue sendiri.

Alhamdulillah, meski pake diinduksi segala, setelah 19 jam mules-mules, brojol juga bocah yang selama ini hobi nendang-nendang di dalam peyut endutku. Amazing banget ngeliat matanya yang penuh selidik melototin bapaknya, dokter dan gue saat dia melangsungkan proses IMD, serta bibir mungilnya yang mencari-cari payudara gue sesaat setelah lahir.

Sesuai komitmen kepada diri sendiri, gue mengurus Nadira tanpa babysitter or nanny. Paling-paling gue dibantuin nyokap yang ngajarin ini-itu tentang mengurus bayi, plus pembantu nyokap untuk cuci-setrika baju bayi. Sisanya, ya gue yang pegang. Gue baru bisa istirahat kalo dia lagi bobo, or digendong papa, nenek, kakek atau tantenya. Tapi ya tetep gak bisa maksimal molor sih. Waktu luang yang ada biasanya gue pake untuk mompa dan memerah ASI untuk stok pas gue kerja nanti supaya Nadira bisa lulus ASI Exclusive.

Minggu depan, gue mulai back to work. Rasanya gak pengen deh meninggalkan rutinitas bersama Nadira yang gue lakonin selama dua bulan belakangan. Apalagi, gue terpaksa mengalah dengan idealisme gue dan meng-hire seorang pengasuh bayi. Itupun cuma part time. Dia pegang Nadira dari pagi sampe sore, terus pulang. Kalo gue libur, dia gak perlu dateng. Gue mau Nadira tetap spend more time with me, not her nanny. Gue takut banget anak gue nanti lebih sayang sama pengasuhnya dibanding emaknya.

So, lima tahun lalu cita-cita gue adalah untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji setinggi-tingginya plus beasiswa untuk kuliah S2. Saat ini, cita-cita itu belum berubah. Tapi, ada satu tambahannya, yaitu, I want to be a mom that my daughter will be proud of. Wish me luck!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s