Goodbye Kang Gito…

These are some scattered thoughts I collected for my article about Gito Rollies. I went to Mekkah to do umrah with him in 2006. And then we often met at Mas Adrie Soebono’s house to attend regular Kopaja pengajian.

He’s very friendly, smart, witty and fun to be with. What I remember most is when he said, “Aduh Ira, kamu cantik banget lho pakai jilbab” and then sang the song Astuti for me, when he knew my last name is Astuti. What a great person he was, and how sad knowing him only for a brief moment.

Wish him a GREAT life in his new home now. Innalillahi wainna illaihi radjiun..

Gito Rollies dalam Kenangan

“Cinta yang tulus di dalam hatiku
Telah bersemi karena-Mu
Hati yang suram kini tiada lagi
Tlah bersinar karena-Mu
Semua yang ada pada-Mu
Membuat diriku tiada berdaya
Hanyalah bagi-Mu untuk-Mu Tuhanku
Seluruh hidup dan cintaku…”

Masih terngiang lirik lagu Cinta Yang Tulus yang dinyanyikan Bangun Sugito alias Gito Rollies, kala berbincang dengan SP di ruang makan Hotel Grand Mekkah, Saudi Arabia, tahun 2006 lalu. Saat itu, kami kebetulan melaksanakan ibadah umroh bersama-sama. Lagu tersebut merupakan lagu yang dibawakannya bersama The Rollies, namun digubah liriknya menjadi lebih religius.

Seusai mendengarnya membawakan lagu itu, SP dan anggota rombongan lain pun bersemangat memintanya membuat album rohani, dengan memasukkan lagu itu ke dalamnya. Rupanya, Gito juga berpikiran sama. Alhasil, pada 2007 lalu, lagu itu pun dinyanyikannya kembali bersama Gigi dalam album Kembali Pada-Nya.

Kang Gito, begitu ia akrab disapa, memang bukan lagi Gito Rollies yang lama. Sejak 10 tahun belakangan, hidupnya berubah 180 derajat. Kini, ia lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, mantan personel band The Rollies ini tak segan-segan berbagi cerita tentang kehidupannya yang dulu dipenuhi dengan alkohol dan obat-obatan terlarang.

“Tiap Jumat siang kami pergi ke Puncak, Bogor untuk melakukan ritual pesta narkoba. Lama kelamaan saya lelah. Apalagi, kami selalu berpapasan dengan orang-orang berbaju rapi, bersarung dan berkopiah yang akan melaksanakan ibadah sholat Jumat. Hati saya pun tergerak,” tuturnya.

Pelan-pelan, Gito mulai memperdalam ilmu tentang agama Islam. Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.

“Saya pun sempat mengalami masa-masa trance, dimana saya seolah-olah melihat seluruh perbuatan dosa saya di masa lampau. Astaghfirullah, saya merasa takut sekali karena dosa saya banyak,” kisah kelahiran Biak, 1 November 1947 ini.

Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarakan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam.

Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.

“Saat saya sudah belajar agama, saya tidak berupaya menyuruhnya sholat. Ia tiba-tiba belajar sholat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika saya pulang, tiba-tiba saya mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal saya tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istri saya memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah,” kata ayah dari empat putra ini.

Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.

“Kata beliau, saya jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan saya jadi menantu favoritnya lho,” tuturnya sambil terkekeh.

Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum
adalah upayanya berbagi cerita.

Bahkan, ia masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian di kediaman promotor Adrie Soebono, ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan perbuatannya saat ini.

“Tak hanya berkurang, namun dosa Kang Gito bahkan sudah dianggap lunas. Kang Gito jangan berpikir perbuatan baik saat ini untuk bayar dosa yang lalu. Sekarang Kang Gito tengah menabung untuk masa depan,” jawab sang ustadz, yang disambut Gito dengan wajah sumringah.

Ya, Gito Rollies memang pribadi yang penuh kenangan. Masih terekam dalam benak kala ia menolak untuk naik kursi roda kala melakukan ibadah tawaf (memutari Ka’bah 7 kali) dan sa’i (bolak-balik dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali) yang melelahkan. Masih pula terngiang di telinga, segala pesan-pesannya untuk menjauhi dunia hitam, agar tak mengulangi kesalahan yang pernah diperbuatnya dulu. Belum lagi komentarnya yang lucu namun bermanfaat, serta vokalnya yang serak namun merdu.

Selamat jalan Kang Gito. Semoga di rumah barumu di sana, kau mendapatkan keteduhan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s