A Life Lesson
15 May 2012 38 Comments
in Myself Tags: gibberish note, hubby, kuliah, masa lalu, parenting
Barusan gue dan temen gue naik taksi. Karena macet, jadilah kita ngobrol ngalor ngidul sama supirnya. Mulai dari kemacetan hingga beban hidup. Dari situ, kita tau bahwa Pak Supir punya anak tiga, dan semuanya hampir sukses jadi sarjana.
“Ini nanti sebentar lagi anak saya yang bungsu lulus Pak, Bu. Setelah itu saya pensiun. Wong saya kerja kan cuma demi anak-anak bisa kuliah,” katanya.
Gue dan temen gue pun terkagum-kagum. Apalagi begitu tau bahwa ketiga anak Pak Supir itu kuliah di universitas negeri, pake beasiswa pula. Terus anak-anaknya pada tau diri. Yang besar, waktu kuliah di sebuah universitas negeri di Jakarta, dia sambil mengajar dan jadi guru honorer. Yang nomor dua, setelah lulus dari institut negeri di Bogor sekarang kerja di BP-POM. Yang ketiga masih kuliah di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah.
Gandhi Inspired
11 May 2012 20 Comments
in Myself Tags: gandhi, motherhood, Nadira, parenting
Dulu, gue punya banyak cita-cita yang, menurut orang-orang sih, nggak terlalu umum. Di antaranya adalah, gue pengen jadi dokter dan guru. Bukan dokter dan guru biasa, tapi dokter dan guru yang ditempatkan di Papua, pulau-pulau terpencil, Kalimantan, Sulawesi, daerah perbatasan, pokoknya daerah yang kekurangan lah.
Follow Up
03 May 2012 60 Comments
in Myself Tags: bu elly, Nadira, parenting
Gara-gara kasus keponakan gue kemarin, gue pun mencoba follow up dengan menghubungi Bu Elly Risman. Bukan untuk konsultasi sih, tapi untuk wawancara karena gue menulis artikel soal bahaya pornografi pada anak. (Begitu terbit, gue upload di sindang deh ye).
Kebetulan gue dapet kesempatan bareng seorang wartawan komunitas Kelapa Gading. Karena Bu Elly buru-buru, akhirnya kita digabung jadi satu. Keuntungannya, gue bisa dapet ilmu baru dari jawaban-jawaban Bu Elly ke Mbak wartawan Kelapa Gading. Kekurangannya, gue nggak bisa fokus nanya ke soal ponakan gue karena Bu Elly memilih untuk menjabarkannya secara lebih umum.
Intinya sih cuma dua. Pertama, sebagai ortu, kita harus update dan nggak boleh bego supaya nggak bisa dibegoin anak sendiri (esp dalam hal gadget ya). Kedua, perbuatan teladan itu lebih berharga dari jutaan kata-kata. Artinya, anak itu nggak mempan disuruh A, B, C kalo ortunya sendiri nggak mencontohkan atau justru melakukan sebaliknya.

Wake Up Call
01 May 2012 112 Comments
in Myself Tags: emosi jiwa, Nadira, parenting, seminar
It takes a village to raise a child. Begitu bunyi pepatah dari Afrika tentang gimana sulitnya membesarkan anak. Gue denger pepatah itu saat ikutan seminar bersama Bu Elly Risman dulu. Meski waktu itu temanya tentang komunikasi, Bu Elly juga memasukkan tema seks agar kita, para peserta, aware.
Mungkin buat yang follow twitter gue, tau tentang kasus keponakan gue yang berusia 7 tahun dan diperkosa oleh tetangganya yang masih berusia 11 tahun. Mungkin pada tau betapa sedih dan nelangsanya gue denger kabar itu.
Memang sih, keponakan gue ini bukan keponakan langsung. We’re only related by marriages. Karena silsilah keluarga yang complicated, supaya adil gue panggil ibunya tante, dan anaknya keponakan.
Anyway, soal anak 11 tahun udah ngerti perkosaan tentu aja bikin tanda tanya besar di kepala kita. Emang anak segitu udah bisa ngac3ng? Yang pernah ikut seminar bareng Bu Elly aja masih terkaget-kaget. Apalagi yang awam dan sabodo teuing? Padahal itulah kenyataan yang ada di tengah kita.
*gue pernah copas seminar sex & gadget Bu Elly dari blog temen di sini * More
Father’s Love
09 Apr 2012 22 Comments
in Family Tags: friends, hubby, Nadira, parenting
Beberapa hari lalu gue ngobrol sama teman kantor, seorang editor sekaligus ayah satu putra. Intinya, kita berdua sama-sama mengeluhkan kemacetan Jakarta yang gila-gilaan benget lah. Temen gue ini, sebut aja namanya Anto, rumahnya di Depok ujung. Sementara kantor kita di daerah perbatasan Jaksel-Jakpus gitu. Pernah suatu hari, gara-gara jalanan yang macet tak berujung, Anto harus berada di jalan lebih dari 5 jam.
Hal utama yang dikeluhkan Anto adalah kurangnya waktu dia bersama anak semata wayangnya. “Untung tiap pagi anak gue bangun jam 5.30, Ra. Dan tiap pagi pula, gue yang memandikan dan memakaikan dia baju. Gue udah wanti-wanti ke bini dan ART di rumah, itu adalah bagian gue, nggak boleh digantikan orang lain. Buat gue, memandikan dan memakaikan anak baju adalah kesempatan untuk bisa dekat dengan anak gue,” katanya.
Terus terang, gue terhura lho denger confession si Anto ini. Soale dari luar, si Anto ini bukan tipe yang kebapakan banget. Malah sebaliknya *hehehe.. Piss To :D*
Too Much Love Will Kill You
14 Mar 2012 15 Comments
in Myself Tags: Nadira, parenting
Beberapa waktu lalu gue ngobrol sama seorang teman, sebut aja Y. Topik perbincangan kita adalah tentang anak. Maklum, gue emak-emak, dia bapak-bapak, dengan anak yang umurnya gak beda jauh-jauh amat. Kita ngobrolin anak seorang teman lain, sebut aja L.
Y cerita kalo anak L yang baru lulus kuliah itu manjanya minta ampun. “Kemana-mana nggak mau naik bis atau ojek. Harus naik mobil, minimal taksi. Kalo minta sesuatu, harus dituruti. Kalo nggak, bisa ngamuk. Kalo ke mol, maunya ke mol kelas atas. Mol kayak PGC or Kalibata Mal gitu dia ogah, meski deket banget dari rumahnya. Minimal kudu ke Senci lah.”
Trus Y cerita, L sendiri sebenernya udah capek dengan sifat anaknya. Kata Y, “L ngaku, dia dan istrinya salah mendidik anak. Untung mereka masih punya anak satu lagi yang sifatnya justru kebalikan kakaknya yang manja. Anak kedua ini mandiri banget dan nggak suka minta macem-macem.”
Gue cukup kaget denger cerita Y soal anaknya L. Emang sih beberapa kali gue liat, L itu sering pontang-panting tanya ke gue kalo ada konser penyanyi yang penjualan tiketnya selalu antri kayak NKOTB dan Lady Gaga. L selalu bilang, anaknya pengen nonton dan minta bapaknya yang cariin supaya dia gak usah antri. Gue waktu itu udah mikir “Koq si L ini mau aja sih dikerjain anaknya.” Setelah denger cerita dari Y, gue baru mengerti.
A-S-E
08 Nov 2011 10 Comments
in Family Tags: gibberish note, hubby, Nadira, parenting
… atawa AC (Air Conditioner). Berhubung separo Betawi-Sunda, gue jadi nyebutnya Ase. Kalo gue bulai mungkin jadinya Aircon kali yee..
Anyway, buat orang-orang zaman sekarang, Ase ini kayaknya bukan lagi kebutuhan mewah ya. Malah untuk beberapa, Ase adalah kebutuhan primer. Kayak suami gue tuh. Dia malah bilang “Siapapun yang menemukan Ase, harus masuk surga. Aku gak peduli sama penemu TV, handphone, etc. Penemuan Ase adalah yang terhebat!”
Zzzz… Zzzz… Grookkk!
*picture’s taken from here *
Parenting Style
12 Jul 2011 25 Comments
in Myself Tags: hubby, Nadira, parenting
Dalam seminar parenting yang pernah gue tulis di sini, Bu Elly bilang “Anak yang sering dicubit akan menjadi orang tua pencubit” *more or less begitu lah ya*. Intinya sih, kalo pengen anak kita jadi anak yang baik, kita harus kasih dia contoh. Kalo kita melarang anak kita melakukan sesuatu, ya kita juga jangan melakukan itu. Pola parenting yang kita terapkan saat ini akan berpengaruh pada pola parenting yang diterapkan kepada cucu kita kelak.
Trus Bu Elly juga bilang, kalo kita dulunya jadi korban cubitan ortu, segeralah putus mata rantai itu dari diri kita sendiri. Janganlah jadi ortu yang nyubit anak karena hal itu bakal melanggengkan siklus cubit-cubitan itu. Kalo kita bertekad untuk tidak melanjutkan hukuman mencubit yang dulu pernah kita terima kepada anak kita, Insya Allah siklus itu akan terhenti.
*picture’s taken from here *
Yuk, Belajar Berkomunikasi dengan Si Kecil!
04 Mar 2011 15 Comments
in Family Tags: parenting, review, seminar
Ini gue copy paste dari artikel gue yang bakal dimuat Minggu (6/3) ini. Isinya sepenggal tentang Seminar Komunikasi Pengasuhan Anak bersama Bu Elly Risman yang dibikin Supermoms ID. Mau bikin postingan khusus di blog, males. Lagian isinya sami mawon koq, hehehe..
Oh ya, karena buat di-publish di koran, gaya bahasanya jadi rada-rada serius gimanaaa gitu. Bukan gaya ngeblog gue banget deh
Oh ya, foto-foto courtesy dari Supermoms ID.
Yuk Belajar Berkomunikasi dengan Si Kecil!
It takes a village to raise a child. Begitu bunyi pepatah kuno dari Afrika. Kalimat itulah yang diucapkan psikolog Elly Risman dalam Seminar Pengasuhan Anak dengan tema “Komunikasi Pengasuhan Anak”. Seminar tersebut digelar komunitas Supermoms ID pada akhir pekan lalu di Jakarta.
Mungkin bagi masyarakat awam, tema seminar mengenai pengasuhan anak dinilai terlalu mengada-ada, atau ‘lebay’. Masa sih mengasuh anak saja harus ikut seminar? Bukankah itu bisa dilakukan secara alamiah?





Latest Comments