Case of the Ex
04 Aug 2011 10 Comments
in Myself Tags: gibberish note, hubby, memory
Gara-gara topik mantan pacar yang diomongin tadi pagi bareng emak-emak, gue jadi pengen nyanyi lagunya Julio Iglesias yang sudah gue modifikasi jadi “To All The Boys I’ve Loved Dated Before”
Hihihihi..
Soal mantan, there’s nothing I can be proud of. Mantan gue biasa-biasa aja, bukan sekelas aktor Hollywood, public figure atau konglomerat (yaeyalaah mana mau mereka sama gue
). Lagi pula, jumlahnya sedikit koq *uhuk, hidung memanjang
* Yang pasti, setelah gue telaah, ada dua kategori cowok yang pernah gue ‘kencani’ yaitu boyfriend type and husband type.
Curhat yang Tertunda
01 Aug 2011 35 Comments
in Myself Tags: memory, Nadira
Gara-gara BBM-an sama bumils kece kemarin, Neng Garet dan Nunul, gue jadi inget kisah melahirkan gue yang jadi salah satu alasan kenapa gue masih agak maleesss punya anak lagi (selain alasan males merah ASI sambil mobile dan males ngitung Dana Pendidikan. Ah emang gue pemales sih sebenernya
). Ntar-ntaran lah, masih pengen tarik nafas gitu ceritanya.
Jadi begini. Pas hamil dulu, gue kan due date-nya tanggal 17 Januari. Kata dokter, kalo nggak mules juga, tanggal 19 Januari gue harus diinduksi. Dan bener tuh kejadian. Gue nggak mules sampe due date tiba. Akhirnya gue terpaksa berangkuts ke RS untuk diinduksi pada tanggal 19 Januari.
Sampe di RS, dicek, gue bener-bener belum ada pembukaan. Trus jam 5 sore gue diinduksi lewat Ms. V. Katanya nanti diobservasi 6 jam lagi untuk ngeliat ada pembukaan atau nggak.
Rasanya udah bosen banget deh. Mana gue nggak kebagian kamar rawat inep. Jadi gue kudu stay di ruang bersalin penuh ibu-ibu hamil yang siap brojol. Bawaannya gue pengen ke Ambas, mau beli eclair favorit gue yang udah gue cita-citain akan menemaniku sebelum bersalin. Tapi apa daya, mertua dan nyokap udah melotot. Gagal dah.
Dunia Ini (Ternyata) Penuh Warna
13 Jul 2011 39 Comments
in Myself Tags: gibberish note, masa lalu, memory
Di sini gue jadi emak super lebay. Udah milih-milih sekolah dari zaman Nadira masih di dalem perut, hehehe.. Alasan gue, I want the best for my daughter. Dan gue yakin semua ortu juga berpendapat yang sama. Nah, gara-gara urusan skul-skul ini, gue jadi pengen nulis tentang sekolah gue dari kecil.
Kalo gue nulis CV, dijamin educational background gue gak mentereng samsek. Gimana nggak? Wong gue dari SD sampe kuliah semuanya di negeri, bukan swasta. Eh sempet ding sekolah swasta, pas zaman SD kelas 1-4, di sebuah SD swasta Islam yang (pada masanya) cukup oke. Meski lumayan jauh dari rumah dan bikin gue terpaksa bangun pagiiii banget, nyokap milih ini dengan alasan, sekolah itu adalah sekolah yang bagus. Murid-muridnya kebanyakan berasal dari kelas menengah atas, meski ada juga beberapa yang berasal dari kelas menengah bawah.
Berhubung kondisi ekonomi keluarga gue dari kecil biasa-biasa aja dan gue rada-rada terintimidasi sama sodara-sodara gue yang tajir-tajir, akhirnya di sekolah swasta itu gue memilih untuk main sama temen-temen yang menengah bawah. Sadar diri bok, apalagi anak-anak yang menengah atas udah nge-gank sendiri gitu. Trus gue kan juga ikut mobil jemputan yang isinya anak-anak tajir. Tambah gak pede dong akika. Jadilah di mobil jemputan itu, gue cuma bisa diem, nunduk terus, introvert abis deh.
*picture’s taken from here *
End of the Journey
17 Jun 2011 33 Comments
Last night, when I was enjoying my time with Nadira and hubby in front of our TV, a friend gave me a very bad news. My friend’s wife who’s in a coma for about a week passed away at around 9pm. All of a sudden, tears were raining down from my eyes. I sat in silence while hugging Nadira, trying to absorb the news and cherish my moment together with my family, all at one.
When I posted a little note about death, lots of my friends (who’re mostly mothers, btw) commented, they felt the same way as I did. It’s hard to imagine our children’s lives without us. Who will take care of them? Will they be well taken care of? Will they miss us, their mothers? Will they remember us? If they have stepmoms, will they experience bad things just like Cinderella or Arie Hanggara? And so on. And so on.
Tadi siang, gue melayat ke rumah duka tempat jenazah istrinya teman gue disemayamkan. I couldn’t hold back my tears anymore. And I guess, other people also felt the same way as I did. Gimana nggak? Temen gue berdiri di samping peti mati istrinya dan terlihat hancur banget. Begitu gue peluk, dia bilang “Ra, akhirnya jadi begini Ra” sambil nahan tangis.
On the contrary, di sebelahnya, their three-year-old daughter duduk sambil makan lolipop dengan wajah kalem dan senyum simpul. Tenang banget dia ngeliatin orang satu persatu yang datang, mengucapkan belasungkawa, memegang pipinya kemudian sibuk mencari tisu untuk mengelap air mata dan ingus yang keluar dari hidung masing-masing.
Nari Daerah, Yuk!
10 Jun 2011 31 Comments
in Myself Tags: masa lalu, memory, nationalism, travel
Barusan gue ngobrol sama seorang teman kantor gue soal kursus tari buat anak. Dia nyaranin supaya Nadira ikutan les tari balet aja. “Supaya kayak anaknya si C tuh,” katanya. Gue cuma ngejawab “Kayaknya gue lebih tertarik masukin Nadira kursus tarian daerah deh.”
Mau tahu alasannya?
Jadi begini. Beberapa tahun lalu, waktu kerutan mata belum ada, gue sempet mewakili Indonesia ke acara ASEAN Youth Camp di Kampuchea (Cambodia) bareng beberapa anak muda. Acara ini diikuti oleh para penulis, musisi, penari, dan perupa berusia di bawah 25 tahun dari negara-negara ASEAN plus 3 negara mitra ASEAN, yakni Korea Selatan, Cina dan Jepang. Intinya, saling belajar tentang kebudayaan dan kesenian masing-masing negara lah ya.
In Memoriam, Friendster
31 May 2011 12 Comments
in Myself Tags: masa lalu, memory
Sekitar 5-7 tahun lalu, siapa sih yang nggak kenal friendster? Bahkan dulu sempat mewabah dan bikin buanyaaak banget orang kecanduan. Dan di beberapa instansi pemerintah dan kantor swasta, friendster sampe di-banned karena dianggap mengganggu kinerja pegawainya.
Kantor gue sih dulu untungnya cuma sempet blokir friendster sebentar. Lagian diblokir juga nggak ngaruh sih karena rata-rata pegawai kantor gue pan kerjanya ngeliput di lapangan. Yang stay di kantor waktu itu udah pada tuwir bin oldies dan gak suka bergaul via social media. Jadi akhirnya friendster pun dibuka kembali.
Kalo ABG sekarang sering galau di twitter dan facebook, gue dulu sering meng-galau di friendster. Especially di bulletin board-nya. Isinya pun aneh-aneh. Mulai dari curcol, lucu-lucuan sampe vulgarisme. OMG, malu bener ingetnya deh!
Sayang, mulai hari ini friendster resmi ditutup. Meski udah lama gak buka dan terus terang, bosen dengan friendster, still, it keeps some of my past stories. Dari yang lucu-lucu sampe yang bikin hati gimanaa gitu mengingatnya (lebay.com
). Just like a quote from my favorite movie, Before Sunset, says:
Memory is a wonderful thing, if you don’t have to deal with the past.
Anyway, here is a note from my multiply, a memoir of my friendster account. I wrote this about 4 years ago and decided to copy paste it here because I think it’s related to this posting
Ms Flirty
31 Aug 2010 13 Comments
in Myself Tags: gibberish note, memory
Baru baca quote ini di twitter:
Flirting is a habit for those who are single; it means “I’m free”, but for those who are committed, it means “I’m bored!”
Hiyahahaha.. Langsung nyengir-nyengir sendiri deh jadinya! Yes, I must admit, back in those days, I loovvee flirting. Kadang-kadang, flirting itu gak bermaksud macem-macem. It came naturally aja gitu. Bahkan seringkali, pas gue nggak maksud flirting, ada aja yang misinterpreted my intention. Susah ya kalo reputasi udah dikenal sbg tuflir, tukang flirting, hehehe..
Kalo gue (sok) menganalisa sih, flirting for men and women itu selain cara berkomunikasi juga salah satu cara untuk menaikkan rasa percaya diri. Serius deh, rasanya seneng banget kalo abis flirting sama lawan jenis, trus dia keliatan tertarik sama kita atau merespons lah. Rasanya langsung “Wow, berarti gue cakep ya neik!” Apalagi kalo flirting-nya sama cowok ganteng yang ‘tipe-gue-banget-gitu-lowh’. Meski cuma buat iseng-iseng alias gak serius, lumayan boosting self-confidence. Jujur nih, it means quite a lot krn gue aslinya emang beneran gak percaya diri




Latest Comments