Career vs Family

Beberapa waktu lalu, gue ketemu seorang teman, sesama jurnalis yang juga sesama emak-emak. Sebut aja si A. Dia curhat tentang kondisi kantornya yang lagi gonjang-ganjing. Banyak rekan sekantornya yang dibajak media lain. A sendiri sebenarnya juga ditawari ke media baru itu dengan tawaran cukup menggiurkan. Namun, dia memilih untuk tidak menerima tawaran tersebut.

Alasannya, pertama ya logis sih. Dia nggak mau gambling, pindah ke kantor baru dengan tawaran menggiurkan tapi ujung-ujungnya media tersebut tutup setelah hanya terbit beberapa edisi (it happened so many times in the media industry). Yang kedua adalah alasan keluarga, terutama anak.

“Kalo gue pindah ke kantor baru, gue pasti harus adaptasi lagi Ra. Sekarang gue udah enak, udah tahu ‘selah’-nya kerjaan dan bisa mengatur waktu sesuai dengan kondisi keluarga. Kalo lagi nggak ada pembantu, gue bisa menyesuaikan waktu liputan supaya anak-anak nggak terlantar. Kalo anak sakit, gue juga bisa enak minta izin ke bos. Lebih fleksibel lah. Nah, kalo di kantor baru, mana bisa?” kata A.

More

Jadi IRT, Siapa Takut?

Seorang teman mengirimkan joke lama baru-baru ini. Bunyinya kayak gini nih:

Antara Aku, Tuhanku, Dan Istriku       

Seorang lelaki berdoa: “Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin memberinyapelajaran, tolonglah ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami.”

Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doanya. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri tersebut, terbangun dan cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah.

Kemudian ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak.

Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk makan siang.

Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang telah dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya.

Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar listrik dan telepon. Disuruhnya kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank ia menyetrika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman, kemudian memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam sembilan malam ia sangat kelelahan dan tidur terlelap. Tentu masih ada ‘pekerjaan- pekerjaan kecil lainnya’ yang harus dikerjakan.

Dua hari menjalani peran sebagai istri ia tak tahan lagi. Sekali lagi ia berdoa, “Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi.”

Tuhan menjawab:”Bisa saja. Tapi kamu harus menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil.”

More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,011 other followers