A Curhat Magnet

Sebelumnya, mau kulonuwun dulu sama Neng Smita. Soale judul postingan ini gue sontek plek dari bionya dia (@petitepoppies) di twitter. Pinjem boleh ya Smiiwww.. *sungkem*

 Anyway, seperti judulnya, yep, just like Smita, I’m also a curhat magnet. Sering lho, ujug-ujug gue dideketin orang trus doi curhat. Mungkin karena gue tipe doyan ngobrol ya. Padahal meski kenal, tapi gue nggak akrab-akrab banget sama itu orang. Atau malah cuma saling tau aja. Mulai dari temen sendiri, sampe supir taksi, abang ojek or supir angkot.

Isi curhatannya macem-macem. Dari soal asmara, ekonomi, keluarga sampe seks. Yang terakhir emang amazing yak. Gue sendiri aja masih suka shock sendiri hehehe..

Gue sih so far, gak terlalu masalah ya dicurhatin. Hitung-hitung nambah pengalaman batin tanpa harus ngerasain sendiri. Kayak kasus dicurhatin supir taxi dulu itu lho. Bener-bener a life lesson deh.

More

Setengah Mateng

I love gays. I really do. They’re fun, hillarious and great to be with. They have all the best things in the world to keep you entertained. In fact, some of my close friends are gay. Thus I believe that the term “a gay man is a girl’s best friend” is so true.

More

Pembeli = Raja?

Just like I mentioned before, gue itu paling gak bisa dagang. Be it dagang in real world or via online store (OLS). Lah wong kemarin bantuin tante gue dagang nastar pake PO aja gue rugi setoples karena lupa nyatet. Jadi boro-boro untung dah cyin hahaha.. :D

Tambahan lagi, gue punya beberapa teman pemilik OLS maupun follow-followan di twitter sama beberapa owner OLS. Ada yang curhat langsung ke gue soal suka-duka mereka jadi pemilik OLS. Ada juga yang curhat di timeline.

Dari situ gue simpulkan bahwa jadi owner OLS itu kudu punya stok sabar beberapa ton. Secara ya bookk.. Owner OLS kan dealing sama manusia yang seringnya belum pernah ketemu di dunia nyata.  Jadi dinamikanya jauuh lebih banyak.

More

A Life Lesson

Barusan gue dan temen gue naik taksi. Karena macet, jadilah kita ngobrol ngalor ngidul sama supirnya. Mulai dari kemacetan hingga beban hidup. Dari situ, kita tau bahwa Pak Supir punya anak tiga, dan semuanya hampir sukses jadi sarjana.

“Ini nanti sebentar lagi anak saya yang bungsu lulus Pak, Bu. Setelah itu saya pensiun. Wong saya kerja kan cuma demi anak-anak bisa kuliah,” katanya.

Gue dan temen gue pun terkagum-kagum. Apalagi begitu tau bahwa ketiga anak Pak Supir itu kuliah di universitas negeri, pake beasiswa pula. Terus anak-anaknya pada tau diri. Yang besar, waktu kuliah di sebuah universitas negeri di Jakarta, dia sambil mengajar dan jadi guru honorer. Yang nomor dua, setelah lulus dari institut negeri di Bogor sekarang kerja di BP-POM. Yang ketiga masih kuliah di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah.

More

Gandhi Inspired

Dulu, gue punya banyak cita-cita yang, menurut orang-orang sih, nggak terlalu umum. Di antaranya adalah, gue pengen jadi dokter dan guru. Bukan dokter dan guru biasa, tapi dokter dan guru yang ditempatkan di Papua, pulau-pulau terpencil, Kalimantan, Sulawesi, daerah perbatasan, pokoknya daerah yang kekurangan lah.

More

Follow Up

Gara-gara kasus keponakan gue kemarin, gue pun mencoba follow up dengan menghubungi Bu Elly Risman. Bukan untuk konsultasi sih, tapi untuk wawancara karena gue menulis artikel soal bahaya pornografi pada anak. (Begitu terbit, gue upload di sindang deh ye).

Kebetulan gue dapet kesempatan bareng seorang wartawan komunitas Kelapa Gading. Karena Bu Elly buru-buru, akhirnya kita digabung jadi satu. Keuntungannya, gue bisa dapet ilmu baru dari jawaban-jawaban Bu Elly ke Mbak wartawan Kelapa Gading. Kekurangannya, gue nggak bisa fokus nanya ke soal ponakan gue karena Bu Elly memilih untuk menjabarkannya secara lebih umum.

Intinya sih cuma dua. Pertama, sebagai ortu, kita harus update dan nggak boleh bego supaya nggak bisa dibegoin anak sendiri (esp dalam hal gadget ya). Kedua, perbuatan teladan itu lebih berharga dari jutaan kata-kata. Artinya, anak itu nggak mempan disuruh A, B, C kalo ortunya sendiri nggak mencontohkan atau justru melakukan sebaliknya.

More

Wake Up Call

It takes a village to raise a child. Begitu bunyi pepatah dari Afrika tentang gimana sulitnya membesarkan anak. Gue denger pepatah itu saat ikutan seminar bersama Bu Elly Risman dulu. Meski waktu itu temanya tentang komunikasi, Bu Elly juga memasukkan tema seks agar kita, para peserta, aware.

Mungkin buat yang follow twitter gue, tau tentang kasus keponakan gue yang berusia 7 tahun dan diperkosa oleh tetangganya yang masih berusia 11 tahun.  Mungkin pada tau betapa sedih dan nelangsanya gue denger kabar itu.

Memang sih, keponakan gue ini bukan keponakan langsung. We’re only related by marriages. Karena silsilah keluarga yang complicated, supaya adil gue panggil ibunya tante, dan anaknya keponakan.

Anyway, soal anak 11 tahun udah ngerti perkosaan tentu aja bikin tanda tanya besar di kepala kita. Emang anak segitu udah bisa ngac3ng? Yang pernah ikut seminar bareng Bu Elly aja masih terkaget-kaget. Apalagi yang awam dan sabodo teuing? Padahal itulah kenyataan yang ada di tengah kita.

*gue pernah copas seminar sex & gadget Bu Elly dari blog temen di sini * More

Toxic Friends

Kemarin pas iseng buka facebook. gue nemu seorang temen, sebut aja A, yang bikin status di akunnya. Biasa aja sih statusnya, ambil dari kutipan lagu gitu. Yang gak biasa adalah komen di bawahnya.

Ada seseorang, sebut aja B, yang misuh-misuh, nuduh A gak pernah punya waktu untuk bertemu dengannya. Saat si A bilang pekerjaannya banyak bener, B reply kira-kira begini: “Ah kebanyakan alesan lo. Bikin status aja bisa, tapi ketemuan nggak. Kalo mau ketemu tuh yang penting niatnya tauk, meski kerjaan banyak.”

Gemes? So pasti. Lah kalo beneran temen, masa ketemuan aja sampe maksa sih? Dan ya IMHO, kalo beneran temen, kudunya pengertian dan gak malah nyolot or marah-marah kalo temennya sibuk.

FYI, dulu gue selama bertahun-tahun pernah berada dalam posisi seperti A. Gue dulu punya teman, sebut aja Neng Paris, yang selalu menganggap dia lebih superior dari teman-temannya yang lain. Makanya waktu itu cuma gue dan seorang teman lain, sebut aja Neng Kim, yang mau berteman akrab sama Neng Paris. Orang lain milih menyingkir karena males ditekan terus-terusan. Mereka bilang “Teman apa penjajah sih? Bikin setres amat.”

More

Loe Lebay Deh

Udah 2-3 kali gue ngetwit keluhan yang sama, dan selalu ada aja yang reply, mengeluhkan hal yang sama pula. Bukan, bukan soal ART, panci bolong atau masakan hangus koq. Tapi soal ini nih:

Duh aseli geli beeng liat ABG pacaran tapi ceweknya udah cium tangan segala ke cowoknya.

*maapkan bahasa saya yang Malih-Bokir-Omas wannabe*

More

Guru Idola

*jreennggg* Saya kembali lagi Kakaak..

Produktif amat yak, ngeblog mulu kerjaannya. Tau nih gara-gara kecapekan koq malah inspirasi meluap-luap buat ditulis dimari. *alasan padahal magabut*

Anyway, kali ini gue mau iseng nulis tentang guru. IMHO, pekerjaan guru adalah salah satu pekerjaan yang paliiinggg mulia. Soalnya kan guru itu delivering knowledge dari generasi ke generasi ya. Dan ilmu itu gak akan putus amalannya. Makanya kalo di agama gue, guru itu salah satu pekerjaan yang paling rewarding in terms of banyak pahalanya. Ih bahagia banget deh my fellow teacher friends :)

More

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,011 other followers